Month: February 2009

Ketika musim Resign Tiba?

Tiga alasan kenapa resign? Kata-kata resign biasanya lebih elegan ketimbang dipecat atau di PHK. Resign dalam kamus.com berarti meletakkan jabatan atau menyerah. Istilah paling gampang mengundurkan diri. Ketika memilih resign setiap orang pasti memiliki pertimbangan sendiri-sendiri. Intinya adalah ketidak-puasan. Baik itu pada penghasilan, atasan, kebijakan perusahaan dan sebagainya. Namun, tidak sedikit orang yang malah menjadi pengangguran setelah resign. Dia tidak tahu akan mengerjakan apa. Ada yang hari ini dimarahin bos besoknya sudah resign. Biasanya orang ini hanya mengedepankan emosi sesaat tanpa memikir jangka panjang. Padahal anak istri di rumah menunggu agar rice cooker tetap mengepul. Rejeki sudah diatur oleh Tuhan, saya yakin Tuhan akan memberi rejeki dari jalan lain. Kalimat itu biasanya yang menjadi senjata ketika seorang yang resign ditanya akan kemana. Setengah frustasi bila kata itu muncul dari mulut yang tidak puas. Jawaban yang normatif manakala ia tidak mempersiapkan dari awal kemana setelah resign. Padahal kita semua tahu tidak ada hujan uang dari langit. Roma tidak dibangun dalam satu hari. Semua dalam kehidupan ini harus berproses. Demikian juga ketika seseorang memutuskan untuk resign. Jangan sampai setelah keluar dari pekerjaan, kehidupannya malah bertambah lebih parah. Jangan sampai hanya karena emosi sesaat kita korbankan anak istri di rumah. Okay, sekarang kita bicarakan bagaimana resign yang baik itu. Atau kenapa kita memilih mengundurkan diri. Ada 3 alasan yang ingin saya kemukan disini. 1. Resign karena ada usaha yang menjanjikan Saya ada...

Read More

Jimmy Sang Semut yang Ahli Aikido

Interview by Tjarli Pixethic Keturunan Padang yang dibesarkan di lingkungan pengusaha, lulusan HI Unpad Bandung ini, Jimmy Harry Warnery akrab dipanggil Jimmy membuat dirinya lebih memilih menjadi seorang “Tangan Di Atas” ketimbang bekerja sebagai pegawai berdasi di lingkungan kantor atau bekerja sebagai diplomat. Keinginan yang kuat untuk menjadi pengusaha, dipicu setelah ayahnya meninggal. Bersama adiknya, ia mempertahankan bisnis ayahnya di Palembang hingga bisnisnya dapat dikelola dengan baik oleh adiknya, kemudian ia merantau ke Jakarta. Sebelum menjadi seorang TDA, Jimmy pernah bekerja di perusahaan marketing communication, namun ia tidak kerasan di lingkungan kantor sebagai pegawai. Berbekal pengalaman dari perusahaan tempat ia bekerja dulu, maka mulailah Jimmy bertekad membuka usaha online sejak Januari 2009 yang dinamai semutsemut.com. Cita-citanya adalah menjadikan semut.semut.com menjadi perusahaan besar seperti amazon.com. Barang-barang yang dijual melalui toko online ini cukup beragam. Ada perlengkapan olahraga, saat ini sudah dijual alat-alat untuk Aikido. Ada juga perlengkapan shalat, mukena yang memiliki kualitas sekelas Mall Pasaraya yang harganya mencapai Rp 2 juta hingga Rp 3 juta, namun disini ia menjualnya dengan harga murah, tidak lebih dari Rp. 1 juta. Selain mukena ada juga jilbab. Di toko online semut.semut.com ini Ia menjual juga berbagai jenis buku seperti buku anak-anak, bahasa, desain interior, motivasi, entrepreneur/bisnis, fashion, buku Islam, komunikasi, life style, masak, novel, buku wanita, politik dan sejarah. Jimmy sebagai pemegang sabuk hitam Aikido, menjual secara online perlengkapan Aikido yang memang kualitasnya sangat...

Read More

Raise You Up – A Change – Leadership into Yourself

Judul Buku : Raise You Up – A Change-Leadership into Yourself Pengarang  : Hendrik Lim, M.B.A. Penerbit : Elex Media Komputindo Siapa bilang itik buruk rupa tidak bisa berubah menjadi angsa yang cantik. Semua yang dibutuhkan untuk perubahan itu sebenarnya sudah ada dalam diri itik. Yang penting, maukah dia menggali potensinya agar bisa terbang tinggi? Ah, sudahlah, mungkin ini nasib saya. Heran, apa yang salah dengan diriku? Mengapa kerja keras yang kulakukan selama ini sama sekali tidak membuahkan hasil? Apa saya kurang rajin? Atau, kurang kerja keras? Beruntung sekali dia, hanya dalam waktu singkat sudah menikmati promosi jabatan. Wah, gak adil nih! Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang biasanya berkecamuk dalam benak seseorang yang merasa kerja kerasnya sia-sia. Sedangkan, dia melihat, orang lain demikian mudah menikmati kesuksesan. Apa sebenarnya yang mereka miliki dan tidak dimiliki oleh kita? Apakah mereka lebih pintar atau lebih berkomitmen? Lebih obsesif? Lebih sabar? Lebih banyak berdoa? Atau, mereka hanya lebih hoki dari kita? Dalam bukunya berjudul Raise You Up: Discover and Shaping a Change-Leadership into Yourself, Hendrik Lim mengungkapkan bahwa hoki atau keberuntungan dapat menjadi cara yang ampuh untuk menerima keberhasilan orang lain yang tidak kita sukai. Sebab, hoki atau keberuntungan boleh dibilang merupakan semacam fakta takdir yang tidak ada akar persamaannya, sehingga tidak dapat dicari variabelnya. Daripada mengkambinghitamkan keberuntungan, sebaiknya, kita mencari faktor-faktor yang dapat mebuat kita lebih baik dari orang lain. Kualitas dan ciri khusus...

Read More

CROWD “Marketing Becomes Horizontal” – The 11 Manifesto

* Ini adalah tulisan berseri saya mengenai E = wMC2 di majalah Warta Ekonomi bulan Juni 2008 Selama 3 bulan terakhir ini, saya dibikin mabuk kepayang oleh rumus yang saya jadikan judul tulisan ini. Kemanapun saya pergi: rapat di kantor, presentasi di klien, mengajar di kelas, seminar di kampus, bahkan jalan-jalan di mal hari minggu pun rumus tersebut berputar-putar kencang di atas kepala saya. Sampai-sampai makan saja nggak enak, tidur pun nggak nyenyak, karena otak saya terisi penuh dengan rumus itu. Pokoknya seperti ABG mabuk cinta rasanya. Menariknya, semakin rumus itu dipikir-pikir semakin kelihatan keindahan dan kemolekannya. Tak hanya itu, saya sudah seminarkan rumus itu di empat kota Jakarta, Bandung, Semarang, dan Medan. Dan dari banyak berdialog dan berdiskusi dengan peserta seminar makin kelihatan indahnya rumus tersebut. Harap Anda tahu tulisan ini saya bikin di atas pesawat GIA 183 dalam perjalanan dari Medan ke Surabaya, di mana malamnya saya bicara di seminar kelima safari saya dengan judul rumus tersebut. Kenapa indah? Di era internet yang kini dikenal sebagai era ”Web 2.0”rumus tersebut makin terbukti kebenarannya Di era kian maraknya social network dan social media (Friendster, Yahoogroups, YouTube, Facebook, MySpace, dsb) rumus tersebut semakin membuktikan kebenarannya. Anda pasti penasaran. Coba kita kupas pelan-pelan rumus tersebut. Sebelumnya, saya sengaja plesetkan rumus tersebut dari rumus legendaris milik Pak Albert Einstein, agar Anda yang membacanya tak lupa seumur hidup. E dalam rumus tersebut...

Read More

Tidak mau bersedia membayar harganya

Pernahkah anda menemui orang yang tidak mau terjun ke dalam bisnisnya, tapi menginginkan hasil yang cepat dan besar?. Salahkah ? tidak sama sekali, Jika anda seorang investor handal, memang harusnya seperti itu, tidak ada yang keliru. Namun, ada satu yang hal yang sering saya temui, yaitu mereka tidak pernah sedikitpun mengalami, membangun, mempunyai dan menjalankan bisnis. Misalnya, sekarang banyak sekali peluang bisnis bertebaran dimana-mana.Franchise dan Business Opportunity juga menjamur. Tentu saja tidak sedikit mengundang minat para pebisnis untuk mengambil peluang bisnis tsb. Ada yang membutuhkan investasi yang cukup besar, lalu ada juga ”business opportunity” yang menawarkan investasi kisaran Rp.2 Juta hingga Rp. 15 Juta misalnya. Sayangnya, banyak para pemula ketika mengambil peluang bisnis tsb, kerap kali mengharapkan Keuntungan Besar & Cepat, Modal kecil, Resiko kecil, Usaha Nol. Jelas? Jadi sedikit yang total terjun atau konsen ke bisnis yang diambilnya tapi mengharapkan keuntungan besar ditambahkan lagi maunya modal yang di keluarkan kecil, balik modal cepat kemudian tidak mau ambil resiko. Tinggal ongkang ongkang kaki ,bersedekap tangan, tinggal menyuruh, berpikir jika mengambil ”business opportunity” sudah dijamin pasti menguntungkan seperti menanamkan uang ke deposito. Lalu jika rugi atau bisnisnya tidak berjalan mulus langsung komplain habis-habisan ke owner atau pemilik utamanya, padahal hanya mengambil bisnis yang investasi relatif kecil Lain cerita jika anda mengambil bisnis franchise yang membutuhkan Anda minimal diatas Rp.300 Juta atau Rp.500 juta. Sudah sepatutnya Anda mengeruk keuntungan yang sudah...

Read More

Follow Us

Recent Videos

Loading...