Gimana sih kamu tuh doel, sudah emak sekolahin tinggi tinggi sampai luar negeri, tapi ko nggak pintar cari duit, nggak kaya–kaya seperti Bento yang tidak sekolah setinggi loe Doel?

Begitu gerutu orang saat melihat anak nya pintar belum mencetak uang hingga bisa disebut sebagai orang kaya. Hm.. apa yang ‘ tidak beres’ sama kecerdasan otak Pak Doel, sehingga ia tidak mendapat bayaran atau omet yang besar? Apakah Si Doel menginvestasikan sesuatu yang tidak efektif dalam otak inteligence nya?

Ada yang bilang Orang pintar itu belum tentu kaya, namun kalau orang kaya pasti ‘pintar’. Apakah anda setuju dengan pendapat diatas? Apanya yang ‘pintar’?

Orang kita sebut kaya artinya ia sudah berhasil mendapatkan sebuah bayaran atas jasanya memenuhi kebutuhan orang lain,- apapun nama untuk kebutuhan itu-. Artinya ia telah menggunakan secara efektif kekuatan dan kometensi nya untuk membidik, memikirkan kebutuhan dan kepentingan orang lain,lalu memenuhinya dan atas dasar itu ia dibayar. Ini berarti ia ‘pintar ‘ bukan? Karena memang dibutuhkan kekuatan mental emphati, untuk memikirkan kebutuhan orang lain, baru ada orang lain yang mau membayar sebagai imbalan untuk itu. Kalau tidak bisa ‘ pintar’ dan efektif menggunakanya, mana ada orang yang mau membayar kita?

Sebaliknya, orang yang pintar – dalam pengertian koqnitif yang sering disebut orang ‘punya otak kiri’, namun apabila ia tidak memiliki sensitivitas tinggi untuk duduk diam dan menggunakan resources intellectualnya itu untuk memikirkan kebutuhan orang lain atau kebutuhan organisasi lain, tentu ini sebuah pilihan yang punya implikasi financial. Jelas tidak ada orang atau institusi lain yang merasa ia telah memenuhi kebutuhannya. dan mereka tidak menuliskan cek pembayaran untuk itu. Para bijak mengajarkan kepada kita semua: orang toh tidak peduli berapa banyak yang kita tahu didalam otak kita, sampai mereka tahu berapa seberapa jauh kita peduli. Peduli adalah sebuah terminologi seberapa emphati kita memikirkan kebutuhan orang lain dengan sumber daya yang kita miliki itu. Dalam semangat seperti itulah, saya rasa sebuah kegiatan bisa menimbulkan impacts.

Dalam pengertian awam , kepintaran sering dihubungan dengan intelegensi otak kiri. Dan ada banyak orang yang pintar yang payah emphatinya (otak kanan) untuk menggunakan sumberdaya yang ia miliki untuk memikirkan kebutuhan orang lain, dan karenanya ia tidak mendapatkan bayaran dan kesulitan uang . Tanpa mentalitas untuk berempathi atas kebutuhan orang lain, seorang executive yang cerdas belum tentu bisa mencetak profit dalam neraca pembukuan korporasi.

Spencer, seorang psikologue besar, bilang kalau seorang berlatar belakang teknik engineering itu amat cerdas dalam bidang teknis, ia bukan termasuk kategori unggulan. Karena memang sudah wajar ia harus mengerti kompetensi tersebut. Begitu juga kalau seorang Psikologue at.au berlatar belakang sosial , mengerti tentang bidang psikologi dan huungan sosial. Tidak ada yang istimewa disini. Kalau seorang berlatar belakang engineering, tapi juga melengkapi dirimya dengan kemampuan dan kecakapan sosial, maka ia baru menjadi products unggulan dan umumnya orang yang melakukan investasi tambahan , diluar kwadran intrinsicnya seperti itulah yang akan menjadi sukses. Kalau Background kompetensi kita adalah engieering dan hanya menginvestasikan waktu dan perhatian kita pada skill enginerring, benar kita akan menjadi amat pintar seperti cerita si Doel diatas, tapi tidak kaya kaya.

Lain si Doel, lain pula dengan Ziglar, salah satu tokoh leadership terbesar di Amerika Serikat. Zig dibesarkan dalam kondisi yang amat pelik dan miskin , bahkan hingga ia menikah dan memiliki putra dan ia masih miskin. Dalam biographynya, ia menceritakan kesulitan karena tidak punya uang saat putranya lahir dan ia dalam kebingungan tanpa uang di kantong. Sekarang keadaannya sudah benar benar berbeda. Kini ia telah menjadi guru leadership yang amat sukes, tokoh bisnis dan pemuka masyarakat di Amerika Serikat. Dan didalam kemewahannya kini ia berkata ketika berhadapan dengan khalayak peserta traning yang ia selenggarakan: “Saya pernah mengalami kemiskinan, dan pernah pula kaya. Izinkan saya memberitahukan kepada Anda; dari pada miskin jauh lebih baik menjadi kaya”. Dan hadirin pun bergemuruh tertawa setuju. Dan pilihan tersebut dimulai dengan sebuah keputusan portfolio investasi. Apakah kita hanya akan berinvestasi di kompetensi otak kiri, sebuah porfolio hard skill semata atau juga akan berinvestasi di otak kanan, portfolio softskill.

Hendrik Lim, MBA
Praktisi Bisnis Internasional