www.wartaekonomi.co.id

Minggu lalu saya bertemu Mas Iim Rusyamsi, Rosihan, dan Mbak Inez. Ketiganya dari komunitas Tangan Di Atas (TDA). Lama ngobrol dengan mereka, banyak pelajaran yang saya dapat. Cerita mereka mengenai bagaimana TDA “beroperasi” membuat saya takjub. Takjub, karena model komunitas yang saya bayangkan selama ini, yaitu apa yang saya sebut “value-creating community”, berlangsung dalam format sederhana di komunitas yang baru berusia tiga tahun ini.

Sebelumnya saya membayangkan value-creating community ini hanya ada pada kasus-kasus hebat, seperti komunitas Linux, komunitas Mozilla Firefox, komunitas programmer amatir Nokia, komunitas InnoCentive, komunitas Wikipedia, atau komunitas Facebook. Namun, rupanya cikal bakal komunitas pencipta nilai ini sudah ada di negeri ini. Saya pun berharap komunitas seperti TDA ini bisa menjadi model terbentuknya komunitas-komunitas sejenis secara massal di negeri ini.

TDA adalah komunitas (offline-online) yang menghimpun orang-orang yang mau dan sudah menjadi entrepreneur. Dalam visi-misinya, komunitas ini memiliki tujuan mulia: mencetak 10.000 pengusaha miliarder sampai dengan tahun 2018. Untuk mewujudkannya, mereka menggunakan medium komunitas. Mengapa? Sebab, mereka yakin bahwa dengan berbagi, saling mendukung, memecahkan persoalan bersama, dan bersinergi satu sama lain, persoalan seberat apa pun akan mudah terpecahkan.

Dalam waktu tiga tahun, jumlah anggota TDA berkembang pesat hingga mencapai sekitar 5.000 orang yang tersebar di berbagai kota di Tanah Air. Untuk memfasilitasi para anggotanya, komunitas ini telah menjalankan beragam kegiatan produktif, mulai dari seminar, workshop, pameran, diskusi online, webinar, business coach, buka kios bersama, leverage game, corporate social responsibility (CSR), kelompok-kelompok diskusi Master-mind, dan sebagainya. Semua kegiatan itu dijalankan untuk memfasilitasi dan mengantarkan anggota menjadi entrepreneur yang sukses.

Value-Creating Community

TDA saya sebut value-creating community karena sekelompok orang yang punya minat, keinginan, dan visi yang sama bergabung, berkomunikasi, berinteraksi, berkolaborasi, berdiskusi, saling belajar, saling bertukar informasi, saling memberi ide, dan saling memberi solusi atas persoalan yang mereka hadapi. Berbeda dengan komunitas-komunitas yang ada sebelumnya, komunitas ini memanfaatkan web 2.0 tools dan media sosial, seperti blog, milis, Facebook, Multiply, Yahoogroups, YM, dan lain lain, untuk memfasilitasi aktivitasnya.

Saya kira mass collaboration dalam format yang sederhana terjadi di dalam komunitas ini.

Mereka membentuk komunitas untuk mengambil manfaat dari apa yang oleh James Surowiecki disebut ”wisdom of crowd”. Mereka meyakini prinsip dasar bahwa ”WE are smarter than ME”: bahwa sesuatu yang dikerjakan secara bersama-sama pasti hasilnya jauh lebih bagus, lebih sempurna, lebih hebat, lebih solid, lebih cepat, lebih efisien, lebih produktif. ”It’s the power of crowd”. Mereka melakukan apa yang disebut kolaborasi secara kolektif di antara anggota untuk menciptakan nilai. Istilah kerennya: ”conversation and mass collaboration for value creation”.

Menariknya, proses komunikasi dan kolaborasi itu berlangsung secara horizontal dan natural. Horizontal, karena di dalam komunitas itu tak ada sebuah otoritas formal yang mengontrol kerja dari komunitas ini. Kalaupun di situ ada Mas Iim dan timnya, itu lebih bersifat memfasilitasi, bukan mengatur, apalagi menginstruksikan dan mengontrol kerja dari komunitas ini.

Di sini tak ada kooptasi dari Kementerian Negara Koperasi dan UKM; tidak ada instruksi dari Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga; tak ada dana Inpres. Mereka juga tidak menjual proposal ke World Bank atau IMF. Mereka bukanlah komunitas malas yang menunggu datangnya subsidi dan bantuan dari pemerintah atau lembaga donor. Semua kebutuhan dana dicukupi sendiri secara mandiri, kalau perlu pakai saweran. Itu pula sebabnya UKM-UKM binaan pemerintah atau LSM selalu loyo, tak pernah bisa sesolid mereka. Mengapa? Sebab, mindset dan landasan berpikir komunitas yang dibangun pemerintah dan LSM berbeda 180 derajat dengan komunitas ini.

Tiga Miliar Bill Gates

Ngobrol panjang dengan Mas Iim, Mas Rosihan, dan Mbak Inez tentang TDA mengingatkan saya tentang buku powerful yang ditulis Thomas Friedman, The World Is Flat. Dalam buku itu, Friedman memprediksi munculnya ”zaman keemasan” di mana akan lahir tiga miliar individu dari India, Cina, Rusia, dan beberapa negara industri baru seperti Brasil, Malaysia, hingga Vietnam, yang saling berkolaborasi sekaligus berkompetisi secara virtual-global untuk menghasilkan inovasi-inovasi dan value creation dalam kuantitas dan kualitas yang tak terbayangkan dalam sejarah umat manusia.

Tiga miliar individu itu akan merupakan spesialis-spesialis yang saling berinteraksi, saling berbagi pengetahuan, saling berkolaborasi kerja satu sama lain untuk menghasilkan inovasi-inovasi besar sekelas Linux atau membentuk perusahaan hebat sekelas eBay atau Google. Ketika tiga miliar individu itu memiliki akses kepada perangkat-perangkat kolaborasi (tools of collaboration) berbasis internet, maka mereka akan menjadi spesialis yang siap untuk ”plug & play” di dalam jaringan kerja virtual-global yang sangat efisien, seamless, self-governed, dan sangat powerful.

Oleh karena energi dan potensi individu terlepaskan (unleash) dengan adanya mass collaboration, maka dunia nantinya akan mampu memproduksi orang hebat macam Bill Gates atau Steve Jobs bukan hanya dalam jumlah puluhan atau ratusan, melainkan bisa mencapai miliaran. Friedman bahkan sudah menyebutkan angka pastinya: 3 miliar. Miliaran individu hebat akan menghasilkan jutaan inovasi hebat, jutaan teknologi hebat, jutaan perusahaan hebat, jutaan organisasi hebat, alangkah indahnya.

Terus terang, saat membaca hipotesis itu, saya bergumam, Friedman pasti sedang ngelantur. Namun, begitu seminggu lalu saya mendengar cerita Mas Iim, Mas Rosihan, dan Mbak Inez, saya jadi takjub: ”Rupanya apa yang menjadi visi Friedman bukanlah omong kosong.”

Seperti Friedman, saya bermimpi (”I have a dream …,” kata Martin Luther King), kehadiran TDA dan ”TDA-TDA lain” yang bakal menyusul akan mampu melahirkan sejuta entrepreneur hebat sekelas Bill Gates di Indonesia. Saya tidak muluk-muluk seperti Friedman. Tak usah ”3 miliar”, didiskon cuma jadi ”sejuta” saja sudah alhamdulillah. Jadi, dengan mass collaboration, kini kita sedang menyongsong sebuah era keemasan di mana akan lahir sejuta Bill Gates di negeri ini. Saya menyebut era itu ”ERA SEJUTA BILL GATES”.

Mari kita songsong: ”ERA SEJUTA BILL GATES”.

Oleh YUSWOHADY

Penulis adalah Direktur Eksekutif Markplus Institute of Marketing (MIM) dan  Penulis Buku.