header_homeAda suatu cerita lagi nih, saya pernah mendengar ada seseorang yang bingung mau dikemanakan uangnya, maklum dia baru saja saat itu mendapat warisan dari sepeninggal ayahnya. Tidak lama kemudian selang beberapa minggu saya bertemu kembali dengannya dengan kondisi sudah memiliki kantor, seperangkat komputer dan perlengkapan office juga ada beberapa karyawan. Ya, dia akhirnya menjadi distributor produk baru kesehatan, tugasnya menjual di wilayah Jakarta.

Setelah berbincang-bincang, dia memang sudah menyiapkan segala sesuatunya di depan dengan rapih. Nyaris tidak ada yang tertinggal & sempurna dimata saya. Kartu nama beres, meja, kursi, komputer, printer, sambungan internet, ruang kerja yang disekat-sekat, ATK, supplier pesawat telpon dll.

Wuih.. hebat nih , dalam hati saya, bisnis tinggal jalan saja, semuanya sudah siap. Bagaikan mobil baru sudah tinggal di starter saja, langsung meluncur.

Tiga bulan telah berlalu, saya kembali menemuinya dikantor untuk ngobrol-ngobrol tapi tidak janjian sebelumnya. Namun ternyata, saya sempat terhenyak, kaget dan bingung. Loh kok kosong tempatnya, tanya-tanya satpam dan penghuni dekat kantornya katanya “sudah bubar mas?”, “Bangkrut sepertinya?”. Waduh !

Ringkasnya, seperti ini, untuk yang tidak memiliki modal atau sudah ada modal. Sesungguhnya tidak selalu padat modal untuk memulai bisnis. Mbah Purdie Chandra ketika pertama kali mendirikan primagamanya, beliau meminjam kursi dan papan white board punya teman dan tetangganya untuk keperluan bisnis bimbingan belajarnya, bahkan repotnya kursi dan meja tersebut tidak 24 jam bisa dipinjam karena pemilik kursi juga butuh sewaktu-waktu, jadi beliau berusaha mensiasati jadwal bimbelnya karena keterbatasan kursi

Dulu ketika membangun bisnis makanan fried chicken & burger, banyak yang tidak sempurna di depan, baik display booth atau counter usaha, logonya belum sempurna, supplier masih dapat yang harganya enggak pas, karyawan masih saya sendiri yg menjalankannya, keuangan belum beres, manajemen seadanya, marketing semampunya.

Tapi…semuanya hari demi hari, bulan demi bulan, begitu bisnis berjalan,segala sesuatunya mulai di tata rapih, ketika keuntungan kelihatan, dana keuntungannya kita manfaatkan membeli beberapa infrastruktur agar proses produksi lancar. Demikian pula dengan sistem keuangan,supplier, manajemen,SOP, strategi, display dll. Semuanya pelan-pelan dibereskan.

Perbaikan terus menerus tiada henti

Ternyata kesempurnaan tidak pernah di peroleh sepanjang saya membangun bisnis. Lalu sampai kapan,? ya sampai kapanpun. Bisnis begitu makin berkembang dan maju, semakin bertambah masalahnya. Semakin banyak yang mesti di rapihkan. Perusahaan Jepang sekelas dunia saja, yang merekrut ribuan karyawan, masih saja memikirkan bagaimana manajemennya 5 R = Rapih, Ringkas, Rawat, Resik dan Rajin terlaksana. Pebisnis Jepang sangat menekankan, fokus untuk menyempurnakan proses, hasil adalah akibat dari proses yang baik. Jadi semuanya diperhatikan, disiplin. Dulu ketika masih kuliah, ada materi industri yang dinamakan ” Kaizen” ( perbaikan berkesinambungan) berkelanjutan. Tidak puas dengan hasil yang diperoleh, perbaiki terus proses, sampai kapanpun.

Khusus untuk saya pribadi, para pebisnis pemula, UKM, Singkatnya Jalani dulu saja bisnis anda semampunya, pelan-pelan kita perbaiki yang bolong-bolong, bereskan yang berantakan. Tidak perlu sempurna 100% di depan dan Jangan juga keasyikan punya bisnis tapi tidak peduli dengan perbaikan sistemnya.

Ridwan
http://www.ridwanfirdaus.com